Diskusi Biru

apa-apa untuk siapa saja, selalu dari sang Nona :)

8 November 2020

Hujan Kemarin Malam

 (Sekalipun perasaan yang kuat akan sirna jikalau terabai begitu saja.)

 

Terkadang, pertanyaan ini terulang di kepala saya: kenapa seseorang harus saling memberi sinyal ketika kedua-duanya malah tidak saling peka? Apa kita tidak bisa saling memberitau saja?

Tingkah laku yang dapat saya baca, tapi kepastiannya tak pernah saya terima.

 

Tuan, seseorang mengetuk pintu. Saya mengajaknya masuk dan suguhkan secangkir kopi panas, di ruang tamu kami mengobrol sebentar, sampai kemudian tiba-tiba hujan.

Seharusnya, bukan kopi panas. Harusnya hanya teh hangat. Supaya cepat ditenggak habis, tidak perlu ada percakapan lama di sela-sela hujan. Kita sedikit terlalu lama menatap bola mata satu sama lain yang berpendar hingga tersadar, “kita sedang apa?”.

Usai hujan, seakan saya terjebak dalam percakapan bermenit-menit lalu, padahal ia sudah beranjak pergi. Aroma petrichor tak lagi sama. Mungkin ia memang seharusnya ada di sini, jangan pergi setelah hujan.

Saya selalu tidak kemana-mana, tapi dikatanya saya sudah hilang. Padahal saya tetap di mana sedia kala, ia katakan saya tak dapat ditemukan.

Yang tak disadarinya adalah, tak pernah ia mencari, tak begitu ia pahami—seakan percakapan hujan kemarin hanyalah sebuah singgah di rumah yang entah; kebetulan ada tertangkap bola matanya kemudian lenyap ditelan setra.

 

Tuan, saya jadi tersadar kemudian, kenapa saya harus selalu ada untuk mereka yang sekadar ‘paruh waktu’ ada untuk saya?

p.s.: Dan kini, rasanya saya bahkan lupa bahwa kamu pernah ada.

Karena ia membuatmu merasa dijauhi?

Mungkin hanya karena kamu terlalu ‘perasa’.

6 November 2020

Patah

 

Apa yang patah?

Benih yang ditanam, kemudian tumbuh dan dipatahkan.

 

Skeptis, akan harus atau tidaknya ditanam dalam tanah basah bekas hujan kemarin sore. Benihnya tidak harus diterima sebenarnya, namun jika diingat-ingat lagi, itu kamu yang berikan benihnya secara paksa. Membuatnya tumbuh hanya untuk menjadi tidak indah karena patah oleh tanganmu.

“atau mungkin, kamu yang nggak sadar, nona. Itu patah karena tanganmu menggenggam terlalu keras.”

Ah, hancur sebelum waktunya dimulai, begitu? Tidak jarang terjadi.

 

“We often want it so badly that we ruin it before it begins.

Overthinking. Fantasizing. Imagining. Expecting. Worrying. Doubting.

Just let it naturally evolve.”

 

Jadi, semua memang akan baik-baik saja jika benih itu tak pernah ada sejak awal; entah diberi atau diterima cuma-cuma, begitu ya …

Mungkin memang saya yang terlalu sering kalut dalam pikiran sampai dibuat tenggelam. Mungkin karena saya terlalu sering memberi orang lain kesempatan lebih dari yang patut mereka terima. Mungkin saya terlalu percaya dengan pikiran ini; bahwa mereka akan melakukan suatu hal untuk saya seperti saya melakukan sesuatu pada mereka dengan sepenuh hati.

“Lepaskan saja ekspektasi terhadap orang-orang itu, nona. Nggak ada hal yang lebih menyakitkan dari merasa kecewa dengan seseorang  yang kita harapkan untuk memberi lebih. Ujung-ujungnya jadi patah sendiri, kan?”

 

Mungkin, maksud lainnya begini: always hope, but never expect. Expectation hurts, tau sendiri kan?

Sadar, nggak? Kecewa itu hasil dari sebuah ekspektasi yang gagal. Supaya nggak merasa begitu kecewa, kurangi ekspektasi atau tuntut lebih dari dirimu sendiri. Nah lho, kira-kira bisa nggak tuh?

1 Oktober 2020

Akankah kamu mengerti?

 (Memperingati “Hari Kesehatan Mental Sedunia” pada 10 Oktober 2020)



Akan saya tuangkan dalam tulisan kali ini,

Suatu kisah kelam yang bermula semasa SD, di bangku kelas 5. Tentang bagaimana keinginan terbesar saya pada saat itu adalah untuk mati. Berawal dari beberapa pemikiran, yang disusul dengan melukai diri sendiri dan percobaan bunuh diri. Nggak ada satu pun orang yang tau tentang kondisi saya saat itu, dan saya pun peduli setan. Sampai akhirnya seragam sekolah berganti warna ke putih abu-abu, dan saya merasa harus bercerita tentang apa yang berusaha saya lalui selama itu ke seseorang.

Saya pikir dengan berbagi cerita membuat segala halnya jadi lebih mudah. Tapi, saya ingat betul, setelahnya mereka hanya tertawa. Mungkin karena saya menutup cerita dengan bagian dimana saya pernah coba mengikat leher sendiri dengan handuk dan menariknya sekuat tenaga. Mereka hanya tertawa.

Maksud saya … duh, apa mereka saat itu benar-benar mendengarkan?

Saya marah, sama diri sendiri, dan semua orang. Saya merasa terisolasi walau kenyataannya berada di antara teman-teman setiap harinya. Rasa cemas yang seakan nggak pernah hilang, serta keinginan untuk mati. Semua itu masih di tempat semula. Saat itu sangat membingungkan. Kamu tau? It’s not that simple. Pikiran saya pun membuat saya menganalisa segala sesuatu tentang suatu situasi yang kemudian berakhir dengan terpikirkannya hal buruk.

Saya bertanya-tanya tentang mana yang baik, dan kewalahan dengan bagian buruknya. Rasa sesak di dada, terengah-engah, kepala yang amat sakit. Tau nggak? Hal itu jauh dari sekadar kata sensitif. Konfrontasi dan situasi sosial yang negatif yang tanpa sadar mereka berikan bisa jadi masalah besar bagi saya, dan mereka malah berkata “Ah, sensi banget sih, gitu doang.”. 

Ada banyak dan masih, tentang stigma dan kesalahapahaman seputar kesehatan mental. Yang mengira depresi itu hanya sebuah kesedihan atau kemurungan, which is not the same as having a bad day. Beberapa ada yang bilang “ah, lo nggak tampak depresi tuh.” langsung di depan batang hidung saya. Masalahnya: saya adalah sosok yang menghabiskan banyak waktu di luar, jalan-jalan ke berbagai tempat. Saya pun tertawa lebih lebar dari kebanyakan orang yang saya kenal. But the truth is, hal-hal itu nggak bisa membatalkan depresi saya; sebatas menunjukkan betapa depresi itu telah disalahartikan.

Karena stigma itu sendiri, seputar kesehatan mental, emosi semacam itu tidak selalu diakui orang-orang di sekitar. Alih-alih membantu, mereka malah menyuruh untuk 'mengatasinya' atau bahkan 'udah lah.. lupain aja', dan tertawa, Hah. Penyakit mental itu bukanlah sesuatu yang bisa kamu 'atasi' atau 'lupain' gitu aja, maemunah, bahkan cuma diketawain. Berkaitan dengan kesehatan mental, nggak ada yang semudah itu.

Orang-orang, the society, mereka perlu punya pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan mental. Saya selalu mencoba untuk menyenangkan orang-orang dan menengahi pertengkaran pertemanan maupun di rumah, karena suasana dari mereka bisa mengubah kondisi mental saya secara drastis. Itu sebabnya saya usahakan agar semuanya tetap tenang. This thing can be so overwhelming, membuat saya mengasingkan diri dalam ketakutan. Terjebak dan sendirian, like no one would understand what I was going through.

And everybody always thought that I was fine :v

Padahal saya pernah nggak bisa bangun dari ranjang selama hampir lebih dari seminggu karena tempat itu satu-satunya tempat paling aman buat saya dan rasanya nggak akan ada hal buruk terjadi kalo saya tetap diam di situ. Terkadang, kamu nggak tau apa yang sedang terjadi di balik pintu kamar yang tertutup. But all I can say is … berada di sana lah untuk mereka, dan bantu mereka menemukan seseorang lainnya, sebelum semuanya terlambat!

Yang saya bisa katakan hanya itu. Berada lah di sana untuk satu sama lain. Karena walau hanya ada satu orang di sana untuk diajak bicara kala kamu kesulitan, bisa teramat sangat membantu.

Owh, jangan khawatirkan saya sekarang. Beberapa hal positif sangat berhasil membantu saya, untuk menjernihkan pikiran dan berpemahaman lebih baik terhadap kesehatan mental diri sendiri. I’m feeling better about myself now.

Sudah banyak hal yang saya coba lakukan untuk menjadi lebih baik di tiap harinya. Saya bekerja keras untuk menghilangkan pikiran yang mengatakan hal-hal mengerikan itu, seperti pikiran untuk bunuh diri itu. Saya rasa penting untuk orang-orang melihat bahwa meski saya belum menjadi lebih baik dari sebelumnya, setidaknya saya sudah mencoba. Bukan sekadar leha-leha menunggu jadi lebih baik atau menyerah gitu aja. 

Saya memutuskan untuk berbagi kisah ini karena masih banyak mereka di luar sana, laki-laki, perempuan, yang sangat butuh seseorang untuk menolongnya; yang bisa diajak bicara, dan mendengarkan dengan baik.

Sebenarnya, saya nggak perlu melakukan hal ini, maksudnya.. menceritakan hal ini, but I choose to. Dengan harapan akan bisa membantu diri saya juga tentunya, untuk tetap sembuh, untuk selalu tumbuh; keluar dari rasa sakit, dan pulih. Untuk menjadi utuh.


p.s.: Ingatkan lagi, bahwa nobody said it was easy :)



#MentalHealth #LoveYourself #BeTrueToYou

23 September 2020

Kebenarannya adalah ...

Saya menulis ini sebagai pesan, sebuah bantuan. Untuk siapapun yang sedang mencari jati dirinya.



Saya tuliskan ini untuk mematikan rasa sakit yang kamu rasakan. Setiap hari saya pun terbangun dengan merasakan hal yang sama. Meneteskan begitu banyak air mata hanya untuk bisa terbangun di pagi hari. Berusaha pura-pura hidup baik-baik saja supaya Ibu ga khawatir. Mencoba bahagia, kadang susah sekali.

Tanpa menyadari, kita perlahan menjadi dewasa.

Jangan khawatir, kamu ga sendiri. Karena saya punya masalah, kamu juga punya, dan bukan cuma kita.

Saya terluka. Terlihat bekas lukanya, ada juga yang tidak.

“Kalau saya tunjukkan, apa kamu bakal lari menjauh? Atau harus kah saya sembunyikan agar kamu bisa tetap di sini?”

“Apa saya bahkan butuh kamu? Atau lebih baik saya tinggalkan saja kamu?”

“Apa saya harus menjadi dirimu, hanya untuk menyenangkanmu?”

It was all in my head. Pernah menjadikan saya seseorang yang tidak saya inginkan. And it hurts. Tapi itu samasekali bukan masalah.

Ada saatnya kamu berteriak, ingin atau harus bahkan sudah. Kamu mengumpat, marah, takut.

Terkadang, saya merasa lelah – dengan orang-orang; yang membuat saya merasa seolah memiliki lubang di bagian tengah diri ini.

Let’s only see good things. Saya ga bisa berkata begitu.

Berkata bahwa hanya akan ada hal-hal baik mulai dari sini, bahwa kamu ga akan terluka. I can’t say that. Saya ga bisa berkata begitu, saya ga bisa bohong seperti itu.

Saya juga pernah jatuh, hancur; berantakan.

Tapi kalau mereka ga bisa menerima kamu dalam kondisi terburukmu, mereka ga akan pantas menerima yang terbaik darimu. Ingat itu!

Hidup itu tentang membuat kesalahan, juga berusaha untuk jadi yang terbaik. Lucu sih, hidup bisa sebegitu ribetnya. Eits, tapi jangan biarkan kegagalan menakutimu! Saya tau, kamu muak, jatuh berkali-kali. Nobody said it was easy. Bangkit! Jangan berhenti di situ! Jangan biarkan kegagalan menakutimu, jangan!

Sekarang ini, realita jauh lebih berat dari mimpi-mimpi kita sebelumnya. Just take a rest, don’t quit!

Jangan terpengaruh sama mereka, yang berusaha menjatuhkanmu supaya menyerah kemudian berhenti. Focus on yourself! Kita semua punya perjalanan masing-masing. Seberapa cepat waktu tempuhnya, bukan masalah besar. Melainkan bagaimana caramu menghadapi segala rintangan yang ada.


                                                                    #LoveYourself #BeTrueToYou

1 September 2020

Hal yang harus dilakukan


Tulisan ini masih berhubungan sama tulisan kemarin.
Tentang dirimu sendiri.

Mungkin beberapa orang merasa kesulitan menemukan dirinya, trus gimana caranya mau ngajak kenalan kalau seperti itu? Atau mungkin mereka sempat kehilangan diri sendiri karena pernah menjadi bukan dirinya yang sebenarnya.
Sebagai bocah polos kala itu, saya belajar dari sebagian besar hal yang ada pada lingkungan sosial. Keluarga, teman, orang asing, sekolah, juga cultural society. Hal seperti bercermin pada semua yang ada di sekitarmu itu sangat membantu membuka pikiran kita; manusia, lho!
Kemudian setelahnya, saya berpaling ke diri sendiri. Mencari pintu kecil untuk masuk ke dalam dan mencari jawaban atas pertanyaan siapakah saya sebenarnya. Dan berhasil. Pelan tapi pasti, semua pertanyaan itu pun terjawab.
Lalu, bagaimana caranya?
Simpel kok. Coba kalian jawab 30 pertanyaan ini di tiap hari dalam bulan September. Atau kapan pun, ga jadi masalah.

1.  Gambarkan dirimu dalam satu kata!
2.  Apa yang kamu takutkan?
3.  Bagaimana caramu menangani suatu perubahan?
4.  Apa impian atau tujuan besar dalam hidupmu?
5.  Kamu merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupmu? Apa itu?
6.  Apa yang paling membuatmu merasa nyaman?
7.  Apa yang bisa membuatmu marah?
8.  Sebutkan 5 hal yang kamu sukai dari dirimu, dan kenapa!
9.  Nasihat yang ga akan pernah kamu lupakan?
10.    Bagaimana kabarmu hari ini?
11.    Apa yang kamu pelajari dari dirimu sendiri selama beberapa tahun terakhir?
12.    Siapa 5 orang yang senang kamu habiskan waktu bersamanya?
13.    Kamu lebih senang berbicara atau mendengarkan?
14.    Kenangan masa kecil favoritmu gimana sih?
15.    Kebiasaan buruk yang ingin kamu hilangkan?
16.    Sebutkan 5 hal yang jago kamu lakukan!
17.    Apa kelemahan terbesarmu?
18.    Apa kekuatan terbesarmu?
19.    Kamu yang ideal itu akan seperti apa sih?
20.    Apa yang pernah menjadi momen terbahagia dalam hidupmu?
21.    Apa kamu mencintai dirimu sendiri?
22.    Apa kepribadianmu berubah sejak kecil? Kalo iya, kenapa?
23.    Apa kepribadianmu mirip dengan orangtuamu?
24.    Menurutmu, apa tujuanmu dalam hidup?
25.    Bagaimana caramu memenuhi tujuan itu?
26.    Apa yang akan kamu lakukan untuk melepas stress?
27.    Sebutkan 5 hal yang bisa bikin kamu tersenyum!
28.    Coba bayangkan dengan detail, akan berada dimana dirimu dalam 5 tahun!
29.    Siapa yang kamu lihat sewaktu berdiri di depan cermin?
30.    Bagaimana caramu membuat hidupmu lebih bermakna mulai dari hari ini?

Mungkin 30 pertanyaan di atas kelihatan konyol, sampai kamu berusaha menjawabnya dengan sepenuh hati. Ga ada yang sepele, karena hal seperti ini bahkan menjadi sebuah bantuan kecil di tahap awal berkenalan dengan dirimu sendiri. Im just so excited to give a hand! Dan tentu, masih banyak pertanyaan lainnya yang perlu saya jawab agar tidak melupakan diri saya sendiri :)

#LoveYourself #BeTrueToYou

23 Agustus 2020

Pernahkah?


“Apa kamu pernah merindukan dirimu sendiri?”

Jawaban:
a. Biasa aja
b. Pernah
c. Tidak pernah
d. Samasekali tidak


Pertanyaan ini, untuk semuanya, bukan? Kalau memang iya, saya yakin semuanya akan berusaha mencari kepastian dalam sebuah jawaban. Berpikir keras pula gimana cara mencarinya.
Merindukan orang lain mungkin gampang. Segampang membalik telapak tangan. Segampang berkedip. Atau bisa jadi ga segampang itu, ferguso. Seperti bertemu teman lama yang peluknya ga bisa kamu tahan untuk dibalas dengan erat. Lainnya, seperti berusaha akur sama saudara sendiri walau cuma untuk sehari. Iya, ga gampang alias sulit. Sesulit itu.
Tapi, pernah ga sih rasanya rindu sama dirimu sendiri?
Yang ini seperti berusaha mengulurkan tangan pada seseorang yang tenggelam di danau, padahal itu adalah pantulan dirimu sendiri.
Ada beberapa hal yang ga kamu ketahui tentang kamu dan orang lain. Belum, tepatnya. Dan akan segera diketahui jika kamu lebih dulu menemukannya.
Apa yang kamu sukai di dunia ini? Apa itu maksudnya apa? Apakah sesuatu yang umum atau khusus? Apakah harus apa, atau bisa jadi bagaimana? Tentang sebuah hal, benda … sebenarnya apa??!

“In a world where you can open any door,
first of all, choose to open the door of your heart.”
— Alexandra Vasiliu

Kenali dirimu sendiri.
Sudah kenal belum, dengan diri sendiri?
“Ya tau dong!”. Hohoo tentu ga begitu cara kerjanya. Bukan perihal mengetahui, tetapi mengenal. Sesimpel kamu tau siapa itu Raisa, penyanyi cantik yang juga istri dari aktor tampan Hamish Daud. Tapi, kamu ga kenal dia, kan? Bagaimana sifatnya, karakteristiknya, yang di depan dan di balik layar pun bisa aja bertolakbelakang. Kamu ga kenal, sekadar tau aja. 
Saya yakin, kamu tau siapa namamu. Tapi siapa kamu sebenarnya? Itu yang harus kamu kenal lebih dulu. Seiring berjalannya waktu, ada orang yang merasa ga nyaman dengan dirinya karena merasa hanya tau namanya tapi ga kenal dengan dirinya sendiri. Atau orang-orang yang ga nyaman menjadi dirinya karena suatu tekanan yang menjadikannya sebagai orang yang bukan dirinya sendiri.
Seperti perasaan ketika terbiasa berada di satu tempat, padahal kita sendiri tau tempat itu bukanlah tempat dimana kita seharusnya berada.

Pernah.
Itu jawaban saya untuk pertanyaan di awal tadi.
Pernah saya merasa begitu rindu pada diri saya sendiri. Sosok yang saya kenal, begitu juga dengan teman-teman lama. Saya yang menjadi apa adanya, yang ga menuntut suatu perubahan untuk jadi baik di depan si a atau langsung buang muka tiap berpapasan dengan si b. Dan pada suatu masa, ketika berjarak jauh dengan mereka, saya kehilangan diri saya sendiri. Sewaktu menyadarinya, saya tiba-tiba teringat akan celoteh salah satu guru yang seringkali bilang begini:
“Sebuah pertemanan itu ibarat berteman dengan penjual minyak wangi, dan dengan seorang pandai besi“.

Saya rasa, kita semua pernah berada di sini; pada posisi dimana berusaha menyesuaikan diri dengan orang-orang di lingkungan sekitar. Sebuah hal yang ga tersadari; akan sebuah perasaan diterima yang kita inginkan. Saat itu, saya sudah terbiasa ada di tempat itu, namun saya sadar tempat itu bukanlah tempat saya. Ketika saya sadar telah kehilangan diri saya sendiri dan merindukannya, saya jadi menyadari makna dari kalimat yang diucapkan sang guru.
Kerinduan itu, bisa dirasakan oleh mereka yang sudah mengenal atau pun belum samasekali, dengan diri mereka. Untuk mereka yang pernah berada di bawah, merindukan bagaimana pahit manisnya perjalanan mereka hingga berhasil sampai ke posisi mereka saat ini. Atau untuk mereka yang masih pada posisi yang sama, namun sudah merindukan bagaimana rasanya sebuah kelegaan dari mengusap keringat perjuangan untuk sampai di posisi akhir.

Jadi bukan diri sendiri, itu ga nyaman, tau?
Rasanya seperti hidup secara tidak utuh.
Terkadang, terasa seperti di dalamnya terlalu kosong hingga harus dipenuhi dengan porsinya yang tepat.
Kadang juga terasa seperti dicekik lehernya lalu ditarik. Seperti mengenakan baju ketat dan tebal. Terkekang. Menyesakkan. Gerah.
Atau bahkan, hal yang lebih sering terjadi, adalah sewaktu kamu terpaksa atau bahkan memaksa diri untuk menjadi apa yang orang lain ingin lihat dari dirimu. Kamu terpaksa menunjukkannya, dengan tubuh gemetar dan keringat dingin bercucuran. Kamu terpaksa, padahal kamu tau kamu tidak seharusnya menuruti kata paksa itu. Sama halnya dengan kamu memaksa diri untuk melakukan hal yang tidak seharusnya kamu lakukan.
Semua itu hanya untuk menuruti sebuah kata paksa, dari mulut orang-orang. Padahal kamu gemetar ketakutan, kamu merasa risih dan benci hal itu. Hanya demi sebuah pengakuan dan penerimaan. Melakukan semuanya itu, bikin ga nyaman, kan? Samasekali.
Saya rasa, sepertinya kamu mungkin harus berhenti mikirin kenapa mereka selalu seperti itu ke kamu. Sebaliknya, tanya dirimu sendiri, kenapa kamu selalu membiarkan mereka seenaknya padamu. Bukan kah begitu yang seharusnya?
Karena mereka bilang mengutamakan diri sendiri itu egois. Well, mereka cuma bilang, tanpa tau bahwa itu adalah hal penting; yang perlu kita lakukan untuk diri sendiri.
Kenal diri sendiri itu emang ga segampang yang dikira siapapun. Jadi, semuanya berada di tangan kita sendiri, Gimana keputusan dan tindakan selanjutnya, cuma kita yang punya kendali akan hal itu.
Kamu, yang selama ini merasa ga nyaman jadi dirimu ataupun merasa belum menjadi dirimu sendiri, coba tanyakan; bagaimana caranya berkenalan dengan diri sendiri? Untuk merasa nyaman atas diri sendiri itu gimana? Semua jawaban ada dalam dirimu sendiri lho padahal. Memang, apa yang terbaik buat dirimu, pasti cuma kamu yang tau.
Jadi, jangan ragu dan beranilah!
Walau perjalanannya ga akan gampang, nantinya kamu akan berakhir merasakan kenyamanan menjadi dirimu sendiri. Dan hal itu ga salah samasekali :)

Jadilah sepenuhnya dirimu sendiri hingga orang lain juga merasa aman untuk menjadi diri mereka :)




p.s. : Intinya, saya cuma mau bilang ‘Kenali dirimu dan jadilah dirimu sendiri’, tapi malah melebar kesana kemari. Karena melihat kenyataan di hadapan, banyak dari mereka yang belum kenal diri sendiri tapi malah pengin jadi orang lain dan bikin diri sendiri jadi ga nyaman.  Bahkan merasa ga puas dengan dirinya, padahal belum tau aja ada harta karun yang tertimbun jauh di dalam sana :)



“Apa kamu sudah kenal dengan dirimu sendiri?”
Sepertinya pertanyaan itu lebih cocok jadi pembuka di atas ya, heu



#LoveYourself #BeTrueToYou

3 Agustus 2020

Pememorian


with the ghost of you



     Hanya butuh waktu selama 3 hari untuk mengenang hadirmu.
     Lalu ketidakhadiranmu terhitung setahun setelah 3 bulan ke depan berhasil saya lewati.


     Kamu, yang tidak pernah saya pinta sebuah kata hadirnya. Atau mungkin, lupa. Begitu banyak kata-kata yang saya lupakan begitu saja, katakan lah sengaja. Dikatakan atau tidaknya, kamu tetap tiada lagi entah di mana pun itu. Truth always hurts, huh? Mengingatnya saja buat saya lebih baik tidak mengingat apa-apa.
     Kamu, yang hadirnya tak pernah saya anggap sebagai ada.
     Seseorang yang hanya saya yang kenal. Atau mungkin dia, dan dia, beberapa teman dekat yang mengharap pertemuan dengan adanya dirimu. Mereka, yang mendengar ocehan jengkel mulut saya ketika jauh darimu. Saya yang dapat tiket gratis bersamamu bahkan berusaha membuang tiket itu. Dan sekarang, saya merasa jadi manusia paling bodoh. Atau mungkin begitu pikir semua orang sewaktu ditinggalkan.
     Some people don’t know what they have until it’s gone.
     Yep. Ga ada yang salah dari susunan kata itu. Karena setelah tiada, saya sadar akan hal-hal yang seharusnya tidak saya abaikan. Faktanya memang seperti itu ya. Siapapun, tetap saja, kita akan menyadari sesuatu itu berharga until it’s gone. Betapa lucu fakta yang satu itu.
     Saya selalu mengatakan pada diri sendiri; maafkan dirimu atas apa yang tidak kamu ketahui. Tapi … bisakah? Semudah itu? Saya ga pernah tau kamu akan pulang ke rumah secara tiba-tiba, dan di perjalananmu yang hendak menghampiri saya di tanah rantau, kamu malah dijemput Yang Maha Kuasa. Dengan cara yang tak pernah terlintas dalam bayang-bayang siapapun. Lalu, akan semudah itu kah saya memaafkan diri sendiri atas kepergianmu?
     Waktu itu, saya sedang berada jauh dalam jurang gelap, bertengkar dengan hidup dan dunia, ketika masuk telepon dari mereka. Menyesal sekali rasanya saya angkat telepon itu. Katanya kamu sudah tidak ada lagi, di mana pun itu. Dan yang bisa saya lakukan hanya diam. Semakin tenggelam jauh dalam kegelapan. Ingat sekali akan saya yang kebingungan, harus kah menangis atau … apa? Apa yang harus saya lakukan? Benar-benar gila rasanya membohongi diri sendiri dari kenyataan di depan mata. Seolah saya tak pernah jatuh ke dalam jurang gelap itu, seolah tak pernah terima telepon dari siapapun.
     Di akhir pekan, antara menyelesaikan Juli dan menyambut Agustus, saya menghabiskan waktu di kampung halaman Mbah, tempat kelahiranmu. And because of it, kamu terasa kembali hadir. Di sana, di tiap-tiap sudut yang saya hampiri. Sore itu, jalan-jalan keliling kampung seorang diri, hingga sampai di pemakaman. Mata saya mencari keberadaanmu, hati saya ingin sekali ke sana, menepuk pundakmu atau bahkan menabrak tubuh besarmu seperti yang biasa saya lakukan dengan sengaja, namun kedua kaki seolah tertanam dalam-dalam ke tanah. I’m just standing still. Pengecut sekali. Sungguh, ini kali pertamanya saya, yang mencari adanya dirimu.

     Merindukanmu, datang seperti ombak.
     Saya dibuat tenggelam selama 3 hari berturut-turut.
     Memori-memori mencuat keluar dari sudut mata dan jatuh basahi pipi.All I do is silence. Karena ocehan-ocehan saya di belakang kamu terus membisiki, jejeritan. Seolah minta untuk dilepaskan saja, dan lupakan. Namun semakin mencoba, rasanya semakin sulit. Semakin banyak yang muncul dalam laci memori. Tiap kali saya benci adanya dirimu dengan celoteh memuakkan telinga, padahal saya tau maksudmu untuk membangun, membantu saya untuk berdiri dan berlari.
Kamu selalu begitu, dengan tingkah kekanakan yang menjengkelkan. Kamu jauh lebih tua dari saya, tapi tetap saja lengkinganmu memecah gendang telinga tiap kali tikus kecil numpang lewat, atau kecoa. Tingkahmu terlalu kekanak-kanakan dengan tubuh besar itu, terlalu bodo amat menimpa tubuh saya hanya untuk minta perlindungan. Selalu cari perhatian. Sungguh itu adalah sesuatu yang sangat menjengkelkan buat saya. Dan mungkin itulah alasan saya membencimu. Padahal, kalau boleh jujur, saya tidak benci siapapun bahkan kamu. Andai kamu tau ini lebih dulu. Nyatanya, saya hanya mengungkapnya dalam sebuah tulisan yang tidak akan pernah kamu baca.
Sejujurnya, saya teramat merasa sengsara, tiap berada di dekat mereka. Mereka, siapa saja, yang tiba-tiba mengingatmu ketika melihat saya. Kemudian ingatan-ingatan itu hadir dan dituang ke dalam cerita sebagai topik obrolan. Seakan kamu masih di antara semuanya. Seakan kamu sedang duduk di atas Kawasaki Ninja dengan full airbrush Yamaha Movistar yang kompak memodifikasinya bareng abangmu. Sayang, knalpotnya emas bukan hitam, terlalu mencolok, karena kamu menutup telinga dari saran saya.
Tidak perlu ditebak, tapi saya tau; pasti akan selalu teringat kamu. Yang selalu blak-blakan. Selalu marah jika tidak di dengar, atau karena kamu sendiri yang salah. Selalu berceloteh panjang lebar, yang semuanya terdengar sebagai omong kosong di telinga saya, padahal yang keluar dari mulutmu tidak selamanya salah. Memang selalu ada saat dimana kamu menjadi seorang dewasa seolah bukan dirimu yang biasanya, atau mungkin memang saat itu adalah kamu, yang tidak banyak diketahui orang lain. Bahkan saya sendiri.
     Satu hal. Tak ada amarah yang tersimpan dalam hati saya karena mendengarkan saran yang kamu berikan, perihal iya atau tidaknya. Saya menjalani apa yang memang harus dijalani, karena kamu lebih tau apa yang seharusnya untuk saya. Tidak. Saya benar-benar tak menyimpan dendam atau apalah itu. Saya rasa, kamu berusaha menunjukan hidup dari sudut pandangmu. Kalimat darimu selalu punya maksud tertentu, saya tau itu. Bahkan, senang rasanya mendengarkan saran darimu waktu itu dan melakukannya. Apa yang terjadi, terjadilah. Semuanya selalu disertai maksud, begitu kan yang berusaha kamu sampaikan?

Di sini, seolah saya masih duduk menunggu kedatanganmu dengan oleh-oleh yang selalu saya minta seminggu sebelum kamu pulang ke rumah.

     I just … never ready for you to leave.


     Saya hanya punya cara saya sendiri untuk mengenang hadirmu. Perasaan itu kerap hadir. Sebuah kata sesal dan rasa bersalah yang teramat. Karena tiap kali kamu diam-diam menggunakan ponsel saya untuk berfoto, selalu saya hapus dengan santainya. Satu pun, tak ada potret yang dapat membantu saya mengenang akan bagaimana rupa wajahmu tiap tahunnya. Hanya dengan cara saya sendiri.





p.s. : would you tell me that you miss me back?